September 12th, 2009

Meski bisu, rindu itu masih menyapa

Bahkan wanita yang sudah lewat 60 tahun itu masih bisa tersipu dan salah tingkah kalau saya menggodanya dengan mengingatkannya pada mantan suami pertamanya. Dan itu membuat saya yakin bahwa kerinduan memang tak bisa dibatasi usia.

Wanita itu adalah orang yang saya segani, dan masih punya hubungan darah sangat erat dengan saya. Suaminya yang pertama, juga orang yang ucapan dan sikapnya banyak menginspirasi saya.

Beliau ini mungkin orang yang kasus rumahtangganya agak langka. Melewati uisanya ke 50, beliau sempat menikah dengan dua orang yang berbeda. Yang pertama cerai hidup, dan yang kedua cerai mati. Di usia senjanya setelah itu malah sempat menjalin hubungan dengan seorang duda. Namun sayang, kedatangan stroke mendahului upayanya. Read the rest of this entry »

Agustus 28th, 2009

Ontran-ontran di CV. Bahagia

Dua tahun belakangan, berturut-turut tiga pasangan yang saya kenal melangsungkan perceraiannya yang pertama. Hanya salah satu dari kisah perpisahan itu yang tak didominasi aroma kental soal materi.

Yang pertama, sebut saja namanya cak Somad. Dua tahun sebelum perceraiannya, sang istri berpamitan pergi ke Taiwan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dengan segenap biaya dan resiko, dia merestui kepergian sang istri tercinta mengadu nasib. Setahun, istrinya sudah mulai menampakaan hasil kerjanya. Bisa memberi support materi, membelikan komputer untuk anak-anaknya yang masih kecil, telepon genggam untuk anak sulungnya, dan setia berkirim surat ke rumahnya.

Cak Somad dan istrinya berselisih umur cukup panjang, lebih dari satu dekade. Maka ketika anak pertamanya menginjak bangku sekolah menengah pertama, usianya sendiri sudah cukup uzur. Read the rest of this entry »

Juli 21st, 2009

Sebuah perusahaan bernama “CV. Bahagia”

Konon, krisis ekonomi yang berkecamuk di negeri kita ini imbasnya juga menghantam keutuhan beberapa keluarga. Keluarga-keluarga yang tadinya nampak begitu tentram bahagia, kemudian goyah dan bahkan terpecah.

Di pengadilan agama dimana masalah itu diputuskan, bolehjadi ada banyak alasan dikemukakan. Namun tak bisa dipungkiri bahwa keretakan2 itu banyak yg dipicu faktor ekonomi belaka.

Dulu, waktu ekonomi masih stabil, asap dapur terus mengepul tanpa hambatan, para penyokong ekonomi rumah tangga masih rutin bekerja dan gajian, semuanya nampak berjalan baik-baik saja. Tak dinyana, krisis ekonomi datang mampir. Uang bulanan mulai surut, sementara mengerem pengeluaran finansial adalah sesuatu yg sulit dilakukan. Itu tak semata karena gaya hidup yang terlanjur dimanjakan kecukupan arus keuangan. Apa boleh buat, di sisi lain harga-harga juga melambung naik. Read the rest of this entry »

Juni 15th, 2009

Kekerasan, suatu bahasa Cinta?

Salah seorang dari tetangga depan rumah kami, pernah mengeluhkan tentang ketidaksukaannya pada cara seorang lelaki mendekatinya. Katanya, lelaki itu bahkan pernah mengirimkan SMS dengan isi arogansi yg kental. Jika dia melihat ada lelaki lain mendekatinya, dia tak segan-segan bermain keras-demikian isi SMS itu.

Dari beberapa kali penuturannya, saya pikir kawan wanita saya itu memang sejak awal sudah tak menyukai lelaki yang diceritakannya itu. Dan, rasa memang tak pernah bohong-mengutip slogan sebuah iklan teve. Bagaimanapun perasaan memang sulit untuk diganggu, apalagi digugat. Bagaimana mungkin ‘rasa’ itu bisa bohong, wong dikendalikan aja susahnya minta ampun. Dia jujur dan apa adanya. Rupanya, rasa adalah dimensi dari diri manusia yang tak pernah mempan dilogika. Read the rest of this entry »

Mei 31st, 2009

Lelaki adalah Petani

Kalimat itu kembali mencuat ketika kami sedang mendiskusikan kesiapan mental untuk menikah. Berkenaan dengan hal ini saya sangat sepakat bahwa kesiapan mental untuk menuju pernikahan itu utamanya harus diusung seorang pria.

Karena, seorang pria yang siap menikah seyoganya juga punya kemampuan membuat calom mempelainya merasa siap, save, tidak was-was menghadapi penikahan.

Lelaki itu petani, kataku. Read the rest of this entry »

Mei 30th, 2009

Buku-buku gratisan dari Depkominfo

Kemaren waktu pulang ke Tumpang, di rumah ada banyak buku dan CD tentang komputer (mostly bertopik Linux dan internet).

Lah, kok tumben?

Ternyata, Mama barusan pulang dari pameran di GOR Ken Arok. Katanya ada pameran dari Kominfo.

Banyak buku dan CD gratis dibagikan dengan baik hati oleh panitianya. Mama yg ndak ngerti2 amat tentang komputer langsung bawa pulang CD Ubuntu n Slackware kalo ndak salah. Plus banyak buku tentang komputer.

Katanya Mama, banyak juga orang2 yg langsung ngambil banyak2 CD dan buku yg dibagikan itu. Katanya mumpung ada gratisan…

Entah, apa keadaannya hari ini bakal sama kayak kemaren ntu.
Soale pas Mama dapet CD n buku, keadaannya memang belon dibuka penuh pamerannya.

Maksutnya, kalo pas pameran sudah dibuka dan kelakuan para hadirin masih tetep berlebih2an dalam memanfaatkan barang “gratisan” itu, alangkah sayangnya….
Barang itu kan dibuat memanfaatkan uang dari pajak kita2 ini…